Semalam saya bermimpi, tak disangka tak dinyana saya terdampar di Republik Banana. Negeri yang sangat indah, saking suburnya tongkat kayu pun bisa jadi tanaman. Orang bilang tanah Republik Banana adalah tanah surga. Republik Banana dipimpin oleh seorang presiden yang suka warna biru. Di mimpi saya tersebut saya menjadi seorang petugas pungut pajak dari sebuah instansi di Republik Banana.
Beginilah ringkasnya mimpi biru saya semalam. Warna biru adalah kesukaan dari presiden Republik Banana di samping slogan-slogannya. Slogan yang dulu sering bergema adalah Republik Banana Pasti Bisa. Sebagai instansi yang ingin mengambil hati sang presiden, instansi kami pun memberi warna biru untuk pencapaian tertinggi dan membuat slogan sebagaimana presiden kami suka slogan. Sampai-sampai profil wajib pungut pun harus dikasih warna merah kalo sudah tertib dan patuh.
Sayangnya kemarin kinerja saya mendapat warna merah. Meski sudah pontang-panting bekerja mengejar pungutan, dan seringkali dapat amarah dari wajib pungut. Memang begitulah nasib seorang “koeli” pungut. Sementara sang pemberi perintah pungut mendapat warna hijau meski pekerjaannya banyak menganggur dan memarahi kami klo pungutan kami tidak memenuhi target. Betul-betul majikan kami menggunakan sistem parasitik habis-habisan, seperti tulisan Saudara Sri Palupi di harian Kompas. Akhirnya dalam mimpi, saya mendatangi mbah dukun dan minta sarannya. Mbah dukun mensarankan kepada saya untuk sering-sering memakai baju berwarna biru agar nantinya mendapat pewarnaan biru. Tiba-tiba alarm HP saya berbunyi, tanda saya harus bangun sahur. Sayup-sayup terdengar syair lagu dari Glenn Fredly
Disisiku, kau untukku
Disisiku hanya engkau milikku
Kutak tahu, o mengapa
Semua ini hanya sebuah mimpi biruku
Kau bawa aku jauh
Dalam khayal semu
Walau hanya biru
Di dalam mimpiku
Haruskah ku
Memendam rindu yang
t’lah lama kumiliki
Dengarkanlah oh…
Isi hatiku yang paling dalam
Percayalah kasih ku tak mampu
(Dengarkanlah kasih ku tak mampu)