My Family

lagi isenggaya

nampak

Penghasilan petani

Waktu masih bersekolah di Sekolah Menengah Atas saya sering bingung kalau disuruh mengisi kuesioner perihal penghasilan bapak saya dalam sebulan. Kenapa bingung? Karena tidak tahu berapa besar penghasilan bapak dalam sebulan. Akhirnya kuesioner tersebut saya isi dengan sekenanya.
Bapak saya adalah seorang petani yang tidak tahu berapa penghasilannya dalam sebulan. Penghasilannya tidak diukur dengan uang tetapi dalam jumlah berapa karung gabah yang dia hasilkan. Jadi kalau lagi butuh uang (uang ditangan habis) untuk belanja keperluan sehari-hari atau bayar uang sekolah saya, tinggal jualan gabah tersebut. Uang tabungan pun tidak ada karena tabungannya dalam bentuk gabah yang disimpan di rumah atau dalam bentuk ternak sapi.
Suatu ketika saya iseng-iseng menghitung berapa sih penghasilan bapak saya. Caranya cukup mudah. Ketika bapak menjual gabahnya, saya disuruh untuk menghitung berapa berat gabah dalam karung tersebut. Jadi saya tahu berapa rata-rata berat gabah sekarung dan harga satu kilogram gabah. Terus saya hitung berapa karung hasil panen bapak dan saya kalikan rata-rata berat gabah sekarung kemudian saya kalikan lagi harga gabah per kilogramnya. Hasilnya sungguh menggagetkan saya. Dalam setahun penghasilannya cuma Rp.8.000.000-an atau sebulan cuma Rp.666.600-an. Hebat! Jadi bagaimana caranya dia selama ini bisa menghidupi 7 orang anaknya?

My Rubber Plantation

In here, Talang Meruap- Sarko- Sarolangun-Jambi, we were moved to make better life. In our village no more land to support our life. We lived in close quarters land and we can’t expanded paddyfield. No future in our life with that village.

In Talang Meruap, i bought ten hectares of shcrub land. With my brothers and sisters, we worked to clear shcrub to concoct the land. We cut away the woods. Burn the bush. This day, we have six hectares of rubber plantation that we seeded. In this year we plan to prepare four hectares of shcrub land for rubber plantation. We do it step by step.

We must tighten our money because we spend much money to bought this land, land clearing and rubber seeds, whereas our childs need money for they study. I wish, the rubber plantation will be our bright future.

My Pictures

BaturadenMy Picture

Petani yang selalu kalah

Petani selalu dirundung malang. Sejak jaman Soeharto sampai jaman reformasi tidak ada keberpihakan pemerintah terhadap kaum petani. Baru-baru ini malahan terdapat kebijakan yang cukup aneh. Membebaskan bea masuk kedelai  dengan mengenakan tarif 0%.

Kaum petani adalah kaum yang mendominasi kemiskinan di Indonesia. Dengan tingkat kepemilikan lahan yang hanya 0,3 ha bagaimana mereka dapat mengangkat derajat hidup mereka. Ditambah lagi, harga jual produk mereka dengan tingkat marjin yang sangat kecil karena kebijakan pemerintah yang menginginkan harga pangan murah. Haruskah hal tersebut dibiarkan terus menerus?