Peternak Sapi Yang Tersisihkan

•Oktober 14, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

Dibukanya keran impor sapi dari Irlandia dan Brasil menambah duka bagi peternak sapi. Bahkan di koran kompas hari ini, ketua asosiasi peternak Indonesia memprotes keputusan pemerintah tersebut.

Selama ini, pasokan daging sapi dari Australia dan Selandia Baru saja sudah menguasai hampir 70% kebutuhan daging sapi domestik dan peternak lokal hanya mampu memasok sebesar 30% dari kebutuhan nasional. Dengan dibukanya keran impor sapi dari Irlandia dan Brasil, peternak sapi potong lokal bakal semakin terjepit.

Dibukanya keran impor daging sapi itu memang bakal menurunkan harga daging dan konsumen dalam negeri akan diuntungkan, namun di sisi lain program swasembada daging yang di gembar-gemborkan pemerintah bakal gagal total dikarenakan peternak dalam negeri kalah bersaing yang akan berakibat peternak enggan beternak sapi potong. Padahal akhir-akhir ini para peternak mulai bergairah karena harga daging lumayan tinggi sehingga margin keuntungan peternakpun meningkat.

Production sharing

•September 15, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar
Sapi PO

Sapi PO

Production sharing in our description is the cooperation among two people as a mean to make profit to be share. We usually use production sharing on cultivation cow and rice planting.

I have cow’s production sharing with several people in my village. My profit sharing are one third of profit for me and two-third for people who cultivate my cow. Now i have nine cows that i share profit. 

Little forest

•Oktober 28, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

I have a little forest. It’s very little forest. Six year ago, we planted our land with teakwood seeds. Now in my garden, grow teakwoods with green leaf. Maybe in march, 19  i will make picture that forest. Just wait.

My Family

•Mei 7, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar
lagi iseng

Mul, Yayak, Moh

gaya

Agus bergaya

nampak

Mul, Yayak, Moh, Eyang

Penghasilan petani

•April 22, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

Waktu masih bersekolah di Sekolah Menengah Atas saya sering bingung kalau disuruh mengisi kuesioner perihal penghasilan bapak saya dalam sebulan. Kenapa bingung? Karena tidak tahu berapa besar penghasilan bapak dalam sebulan. Akhirnya kuesioner tersebut saya isi dengan sekenanya.

Bapak saya adalah seorang petani yang tidak tahu berapa penghasilannya dalam sebulan. Penghasilannya tidak diukur dengan uang tetapi dalam jumlah berapa karung gabah yang dia hasilkan. Jadi kalau lagi butuh uang (uang ditangan habis) untuk belanja keperluan sehari-hari atau bayar uang sekolah saya, tinggal jualan gabah tersebut. Uang tabungan pun tidak ada karena tabungannya dalam bentuk gabah yang disimpan di rumah atau dalam bentuk ternak sapi.

Suatu ketika saya iseng-iseng menghitung berapa sih penghasilan bapak saya. Caranya cukup mudah. Ketika bapak menjual gabahnya, saya disuruh untuk menghitung berapa berat gabah dalam karung tersebut. Jadi saya tahu berapa rata-rata berat gabah sekarung dan harga satu kilogram gabah. Terus saya hitung berapa karung hasil panen bapak dan saya kalikan rata-rata berat gabah sekarung kemudian saya kalikan lagi harga gabah per kilogramnya. Hasilnya sungguh menggagetkan saya. Dalam setahun penghasilannya cuma Rp.8.000.000-an atau sebulan cuma Rp.666.600-an. Hebat! Jadi bagaimana caranya dia selama ini bisa menghidupi 7 orang anaknya?

My Rubber Plantation

•Maret 5, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

In here, Talang Meruap- Sarko- Sarolangun-Jambi, we were moved to make better life. In our village no more land to support our life. We lived in close quarters land and we can’t expanded paddyfield. No future in our life with that village.

In Talang Meruap, i bought ten hectares of shcrub land. With my brothers and sisters, we worked to clear shcrub to concoct the land. We cut away the woods. Burn the bush. This day, we have six hectares of rubber plantation that we seeded. In this year we plan to prepare four hectares of shcrub land for rubber plantation. We do it step by step.

We must tighten our money because we spend much money to bought this land, land clearing and rubber seeds, whereas our childs need money for they study. I wish, the rubber plantation will be our bright future.

Petani yang selalu kalah

•Februari 20, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

Petani selalu dirundung malang. Sejak jaman Soeharto sampai jaman reformasi tidak ada keberpihakan pemerintah terhadap kaumaru-baru ini malahan terdapat kebijakan yang cukup aneh. Membebaskan bea masuk kedelai  dengan mengenakan tarif 0%.

Kaum petani adalah kaum yang mendominasi kemiskinan di Indonesia. 
Dengan tingkat kepemilikan lahan yang hanya 0,3 ha bagaimana mereka dapat mengangkat derajat hidup mereka. Ditambah lagi, harga jual produk mereka dengan tingkat marjin yang sangat kecil karena kebijakan pemerintah yang menginginkan harga pangan murah. Haruskah hal tersebut dibiarkan terus menerus?